Satrio W.S.

Ah entahlah. Betapa sejuknya pagi tadi. suasana lembab di halaman rumah pasca hujan tadi malam. penuh kesegaran ku tatap dari sana. Kabar baik dari bekasi, "Alhamdulillah yo, kamu bisa tutup teori... bapak sudah bersyukur, ya walaupun kamu telat menyelesaikan KTI-mu" ayah lewat ponselnya. dalam hatiku sempat miris karena janjiku kepada diri sendiri untuk membahagiakan orang tua meleset. aku coba meyakinkan diri bahwa inilah aku. merasa teramat puas untuk melakukan sesuatu yang aku senangi. terlebih aku berkesempatan mengenal hal baru. biomekanika, anatomi makroskopis, neuroanatomi, dan antropometri seakan adalah kawan baru yang kukenal.

Stable people yang kupahami adalah mereka yang mampu konsisten berkarya walau sekecil apapun tetapi tetap berpikiran besar untuk sebuah kontribusi nyata. tetap fokus pada tujuannya tanpa terpecah pada ketidakseriusan menghadapi tantangan.

Karena perjalanan ini mirip seperti yang digambarkan Lord Baden Powell dlam bukunya "Rovering to Succes. Kita ibarat seorang di atas sampan yang terus mengayuh menuju pulau bahagia. dimana kanan kirinya terdapat karang yang berpotensi menghambat tentunya.

#ya Rabb, kuatkanlah hamba menempuh tantangan-tantangan di jalan ini.
ayah, bunda, maafkan ananda yang tidak mampu menjaga amanah dengan sebaiknya
Satrio W.S.
Itulah pagi. Saat kita mulai bersemangat untuk menjadi yang terbaik dalam rangkaian impian kita. sebuah titik awal dalam memulai sebuah aktifitas. Yang kemudian aktifitas itu menyejarah dalam hidup. Melakukan yang terbaik atau membusuk bersama kemalasan adalah sebuah pilihan

Banyak rekan memulai aktifitas dengan sesuatu bermakna. Sahabatku selalu kirim SMS untuk sekedar mengingatkan shubuh. Sementara rekan yang lain dengan SMS motivasi. Sebuah recharge bagi semangat, niat, dan kesegaran pikir.Subhanallah. Jazakumullah khairan katsiran sahabatku

Detik tadi ku niatkan sebuah rangkaian rencana untuk hari ini. Latihan skill lab, asistesni anatomi, rapat perdana Badan Pekerja Sidang Umum KM UII dan..... finishing KTI. Sebuah amanah yang harus di emban ddengan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Ya Allah, semoga rencana ini dapat membawa keberkahan dalam hidupku

#dimulakan dengan Bismillah, di sudahi dengan Alhamdulillah
saat pagi datang dan siang mulai menghampar
Satrio W.S.

Sejak A. Fuadi, penulis Negeri 5 Menara tampil di KickAndy, Metro TV bulan Mei 2010 dan Tatap Muka TVOne bulan Agustus, banyak pertanyaan tentang tips bagaimana dia mendapatkan 8 beasiswa dari luar negeri. Beasiswa yang diterimanya mulai dari program fellowship 1 semester di National University of Singapore, exchange program ke Quebec, Kanada, sampai program masters di George Washington University, USA dan University of London, UK. Fuadi sempat membagi tips ini di akun twitternya @fuadi1. Berikut kompilasi tweet itu:


Satrio W.S.
“Siapa yang masuk kedokteran karena disuruh oleh orang tua? “ Tanya salah seorang dosen senior
Sambil diam saya acungkan tangan. Begitu juga dengan beberapa teman saya.
(di ruang kuliah 1.10 FK UII, sekarang perpustakaan)

Kira-kira itulah kejadian yang saya ingat di hari-hari awal saya kuliah di Fakultas ini. Fakultas yang jumlah muridnya 217 orang dalam satu angkatan pada saat itu. Itulah jawaban yang saya berikan apabila ada dosen yang bertanya tentang hal itu.

Saat saya sekolah menegah pertama dulu, ayah saya berkata, “Yo, km kalau besar nanti jadi dokter ya. Jadi dokter itu enak. Ilmunya bisa kepake terus untuk menolong orang dan ga ada pensiunnya. Kalau jadi Polisi atau insinyur pas pension udah tidak bisa melakukan apa-apa. Sedangkan kalau kamu menjadi dokter, selagi kamu bisa menulis resep, kamu bisa selalu menolong orang”. Seperti adat kebanyakan saya jawab, “Iya, Pak”.

Menjadi dokter mungkin tak pernah terlintas dalam benak. Karena saya anggap dokter itu ga menarik. Walaupun saat di nasehati dulu, dalam hati saya meng-amini kebenaran kata-kata ayah. Saat sekolah menengah atas dulu, saya justru lebih tertarik untuk masuk Teknik Nuklir. Saya terinspirasi dari pendapat rekan guru Fisika SMA saya. Ia merupakan Laboran BATAN yang pekerjaannya meneliti tentang pengembangan nuklir.

Ia berpendapat, “ Indonesia akan menjadi negara yang sangat maju apabila menggunaka sumber energi dari nuklir ini. Alasannya karena dari nuklir kita dapat memperoleh enrgi yang besar tanpa modal yang besar, selain itu Indonesia punya Sumber daya alam sendiri, dan jumlah tenaga kerja yang besar dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia” Saya rasa seru bekerja di dalam laboratorium yang dikelilingi reactor nuklir..hehehe. Saya juga sempat ingin mencoba masuk angkatan. Tapi entah kenapa hingga masa pendaftaran ditutup saya saya enggan untuk berangkat mendaftar.

Beberapa hari kemudian, saat saya sampai di rumah sehabis acara perpisahan SMA, ayah memaggil. “Yo, kamu besok malam berangkat ke Jogja. Kamu harus sekolah disana. Nanti berangkatnya bapak yang menemani”. Lalu ku jawab, “ Iya pak”. Dalam hati saya berpikir ternyata ayah tidak main-main tentang rencananya memasukkan aku di fkultas kedokteran. Saya sempat menilai bahwa ayah saya teramat kolot dalam hal pendidikan. Ia hanya menyetujui pilihan jurusan yang menurutnya “terjamin” masa depannya. Tapi entahlah mungkin suatu saat ada benarnya.

Jadilah saya kemudian berangkat menuju Jogja dengan kereta api. Kelak di hari depan saya juluki kereta itu ‘kereta harapan’ karena mengangkutku menuju keinginanku, dokter. Setelah mencoba ujian saringan masuk, akhirnya saya diterima di FK UII.

Ada sebuah peristiwa yang kemudian merubah paradigma saya untuk menjadi dokter. Dalam perjalanan pulang silaturahmi Idulfitri dari rumah paman di Kutoarjo. Motor yang saya kendarai bersama kakak menabrak seekor kucing. Kakak saya lantas menyuruh saya membawa membawa kucing itu untuk dirawat dirumah. Sebelum saya gendong, saya periksa tubuh si Kucing. Tidak ada luka perdarahan, mungkin ada lecet itupun sedikit. Tapi sayang, ditengah perjalanan sang kucing wafat. Akhirnya kucing di kubur di halaman rumah.

Saat menatap kucing dipangkuan, saya berpikir, apa yang terjadi pada saya apabila yang kritis itu seorang manusia yang merupakan orang yang saya kenal. Saat seperti itu pasti yang dibutuhkan adalah seorang yang mampu menolong dan mengobati. Bukan seorang yang hanya sanggup menatap. Sejak saat itulah saya (coba) tertarik dengan dunia kedokteran……………………..

Silahkan Isi


ShoutMix chat widget