Satrio W.S.
Hati mirip seperti mata, bisa melihat. Demikian yang dikatakan Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid dalam kitab Al Awa'iq. Sebagaimana mata, kemampuan hati dalam melihat berbeda-beda. Ada yang mampu melihat dari jarak yang cukup jauh. Ada pula yang bahkan tidak mampu melihat benda besar yang ada di hadapannya. Begitupun hati, ada yang bisa merasakan kekurangan dirinya yang kecil....

----------

"Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang mereka katakan tentang aku. Berikanlah kebaikan padaku dari apa yang mereka sangkakan kepadaku. Ampunilah aku karena apa yang tidak mereka ketahui tentang diriku." (Ali bin Abi Thalib ra)

Sebuah kebaikan, memang lebih baik jika dilakukan tanpa diketahui oleh orang lain. Amal-amal ibadah, utamanya yang sunnah, menjadi sangat bernilai bagi kita, jika kita bisa melakukannya tanpa pengetahuan orang lain. Beribadah, bermunajat, mengadu, berdzikir, membaca ayat-ayat-Nya, sendirian. Tanpa orang lain, siapapun. Mengakui kealpaan, memohon ampun, menyerahkan semua urusan kepada-Nya, sendirian. Tak ada orang lain, siapapun.

Itu sebabnya, Allah swt memerintahkan kita mengisi sepertiga malam terakhir, saat paling sunyi, dengan memperbanyak ibadah sunnah dan berdoa. Soal kesunyian ini, Rasulullah saw juga mengisyaratkan bahwa do'a seorang Muslim pada saudaranya, di saat sunyi dan tidak diketahui orang lain, cenderung lebih mustajab dan lebih mudah diterima oleh Allah swt.

Ibnu Athaillah rahimahullah pernah membahas masalah ini lebih jauh dan dalam. Katanya, "Kebanggaanmu bila orang lain melihat kelebihanmu adalah bukti ketidakjujuranmu dalam beribadah. Maka kosongkanlah pandangan orang lain terhadap dirimu. Cukup bagimu pandangan Allah terhadap dirimu. Tidak perlu kamu tampil di hadapan mereka agar engkau terlihat di mata mereka." Ibnu Athaillah mengungkapkan sisi-sisi gelap dalam hati seseorang, yang sulit diraba keberadaannya. Ketidakjujuran seseorang dalam beribadah, ternyata bisa dinilai dari perasaan bangga atau tidak bila ada orang lain yang melihat kebagusan ibadahnya. Semoga Allah swt membukakan pintu rahmat dan ampunan-Nya untuk kita semua.

Saudaraku,
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengibaratkan suasana sunyi dan tenang itu sebagai pendingin bagi otak yang menjadi tempat berpikir. la mengatakan, "Otak diciptakan dalam keadaan panas (hangat) karena digunakan sebagai tempat untuk berpikir. Karena itu di dalamnya harus ada zat pendingin dan ia butuh tempat yang tenang, kokoh, bersih dari kotoran dan noda, sunyi dan terhindar dari keramaian dan keributan." Ibnul Qayyim yang menjadi murid Imam Ibnu Taimiyah itu lalu menggaris bawahi bahwa pikiran yang bersih, daya ingat yang hebat dan analisa yang tepat itu keluar ketika badan dalam badan tenang, tidak terlalu sibuk dan terhindar dari goncangan-goncangan yang menyibukkan.

Begitulah saudaraku,
Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari beribadah dan melakukan amal kebaikan tanpa pengetahuan orang. Para ulama mengatakan bahwa ibadah dan kebaikan yang dilakukan dalam kondisi sunyi, selain bisa lebih memberi kekhusyu'an, lebih meningkatkan keikhlasan, juga bisa mengajarkan kita untuk tidak memiliki sikap banyak bicara dalam bekerja dan beramal. Artinya, amal-amal di waktu sunyi, mendidik pelakunya untuk lebih banyak bekerja daripada berbicara.

Ada istilah menarik tentang hal ini yang disampaikan oleh Abdul Qadir Al Kailani. Ia mengistilahkannya dengan dengan kalimat as-shumtu sindan, yang berarti diamnya rayap. Rayap binatang yang hampir tak pernah berhenti memakan kayu dan membangun rumahnya. Rayap bekerja nyaris tanpa suara, dan tak pernah berhenti. Pekerjaan yang dilakukan rayap, menurut Abdul Qadir Al Kailani, mengajarkan kita bagaimana sikap gigih dan keseriusan bekerja serta melakukan banyak perubahan tanpa peduli apakah pekerjaannya itu diketahui oleh orang lain ataupun tidak. Perhatikanlah kata-katanya, "Yang kuingini dari kalian adalah kerja-kerja tanpa bicara. Itu bisa dilakukan oleh orang yang mengerti dan bekerja karena Allah. Bak binatang rayap yang terus menerus menggerogot, tanpa kata-kata. Ia berjalan di atas bumi. Ia lakukan perubahan dan pergantian. Tapi bumi tuli terhadap kerja-kerja rayap." (Al Fathur Rabbani/36-37)

Saudaraku,
Semoga kita bisa terhindar dari suasana yang merusak upaya kita untuk terus menerus melakukan amal amal shalih. Semoga kita terjauhkan dari perilaku yang menghalangi usaha kita dalam menebar kebaikan. Perhatian orang, pembicaraan orang, hingga pujian orang karena kita memiliki kelebihan dan kebaikan di mata mereka, bisa menjadi salah satu pintu fitnah. Karena itulah, para salafushalih, umumnya lebih gemar menjadi orang yang tidak dikenal, tapi memiliki prestasi ibadah dan pengorbanan yang sangat hebat. Mereka lebih senang beramal secara diam-diam dan tak diberitakan orang. Mereka lebih suka menjadi prajurit bayangan yang rela berkorban namun tidak diketahui dan tidak dikenal orang.

Saudaraku,
Hati mirip seperti mata, bisa melihat. Demikian yang dikatakan Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid dalam kitab Al Awa'iq. Sebagaimana mata, kemampuan hati dalam melihat berbeda-beda. Ada yang mampu melihat dari jarak yang cukup jauh. Ada pula yang bahkan tidak mampu melihat benda besar yang ada di hadapannya. Begitupun hati, ada yang bisa merasakan kekurangan dirinya yang kecil. Tapi ada juga yang tidak bisa mengetahui aib dan kekurangan dirinya yang besar dan banyak. Kekuatan pandangan hati, sangat kuat kaitannya dengan kekuatan pemahaman dan kekuatan cahaya iman di dalamnya. Hati bisa semakin menurun kualitas dan kekuatannya, karena kebodohan ilmu dan redupnya cahaya iman oleh kemaksiatan.

Waspadailah pujian yang bisa menurunkan kualitas hati meraba kekurangan dan aib diri sendiri. Salah satu do'a Ali bin Abi Thalib ra yang terkenal ketika ia mendapat pujian dari orang lain, adalah: "Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang mereka katakan tentang aku. Berikanlah kebaikan padaku dari apa yang mereka sangkakan kepadaku. Ampunilah aku karena apa yang tidak mereka ketahui tentang diriku."

Saudaraku,
Mari tenggelam dalam kesunyian. Hanyut dalam keheningan. Mendengarkan setiap tarikan nafas. Merasakan detak dan irama jantung. Bertafakkur, bermunajat, berdo'a, beribadah kepada Allah swt di waktu sunyi. Saat tak ada orang lain yang mengetahui amal-amal kita. Ketika tak satupun orang yang memperhatikan kita...

Dikutip dari “Mencari Mutiara di Dasar Hati”
Muhammad Nursani


dari : http://oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=676
Satrio W.S.

6 Juni 2011

Sudah lama tidak menulis. Betapa banyak sekali pembelajaran berharga yang melintas. Sekedar ingin mengangkat pikir, menengadah dan berharap ada yang melekat. Menginspirasi dan berkarya nyata.

Hari kemarin Sukarno dilahirkan, 3 tahun pasca lulus dari HBS beliau memulai gerakan untuk perbaikan Indonesia. Bergeser 20-an tahun kemudian, Hok Gie berkontribusi dengan pemikiran-pemikirannya untuk perbaikan negeri ini. Sedangkan Iwan Setyawan di usianya pasca lulus sebagai mahasiswa terbaik IPB sudah melesat menjajaki New York untuk menjadi Data Analyzer di perusahaan maju kelas dunia. Kini ia kembali dan mengusahakan gerakan yang ia istilahkan sebagai “touch people”. Menginspirasi pemuda Indonesia untuk maju. Wow. Itulah yang mereka telah lakukan.

Saya jadi ingat pernyataan sahabat saya Erwin Aritama, bahawa usia 18-25 tahun adalah usia emas kita yang menentukan jadi apa kita nantinya. Apabila berkaca pada orang-orang seperti Soekarno, Hok Gie, Iwan Setyawan, dan mereka-mereka yang telah kontributif menerbitkan wacana baru di dalam kepala. So, what I’ve done? Sudah bermanfaatkah setiap detik yang saya lalui. Kalau ada manfaatnya (saya sendiri tidak yakin banyak atau sedikit) seberapa jauh ia?

Idealismenya tentu saya harus menjadi yang bermanfaat. Itu saja. Frame simple. Tapi bermanfaat untuk siapa? Bangsa ini. Sekali lagi saya tidak yakin dengan kemanfaatan yang telah saya lakukan. Ah jangankan untuk bangsa atau orang lain, saya sendiri kadang berpikir bahwa belum selesai dengan diri sendiri. Padahal poin inilah yang penting. Kalau boleh mengutip pernyataan Prof. Anies Baswedan, “mereka yang korupsi di negeri ini adalah mereka yang belum selesai dengan dirinya sendiri”

Sejenak saya ingin merenung.

Berkaca kembali padi 21 tahun terakhir. Tentang aktivitas yang telah dilakukan.

Ah sepertinya belum berjalan pada rel jangka panjang kehidupan. Masih banyak yang harus diperbaiki.

Di ujung perenungan tentu ada sesuatu yang menghasilkan.

“saya ingin menjadi lebih baik lagi. Hati dan pikir tak boleh jauh dari rel jangka panjang”

Bismillahirrahmanirrahim.. semoga Allah meridhai.

*menata mimpi di Magelang 04.24 WIB

Labels: , 0 comments | Links to this post | edit post
Reactions: 
Satrio W.S.
Hari tadi adalah hari pertama ujian pre pendidikan klinik. ujian yang rekor lulus 100% di tahap pertama ujian belum pernah terpecahkan sejak kampusku berdiri. Kalau menurut salah seorang dosen, "sebenarnya bukanlah kalian yang bodoh hingga ada yang tidak lulus, tapi ujian ini adalah pertaruhan mental kalian sebagai dokter". seorang penghafal chek list yang jitu sekalipun bisa terjatuh dengan mudah dalam ujian ini.

Bismillahirrahmanirrahim...
Aku tatap hari seninku dengan semangat membara. Sepertinya ujian kali ini seru. Pemasangan kateter, Pemasangan infus/transusi set, anamnesis IPD, rekam medis IPD, dan Pemeriksaan fisik IPD. Mengningati kembali ilmu yang telah dipelajari. memang kalau untuk skill itu tidak butuh sekedar hafalan. tapi juga kebiasaan. bisa karena terbiasa. mungkin itu kuncinya.

belajar sudah. selanjtunya adalah meminta restu orang tua karena kuanggap ini adalah hajat besarku untuk mertaih kesuksesan. aku luruskan kembali niat dalam ujian ini. kumohonkan ghirah yang berlebih dalam karunia-Nya.

akhirnya..
ujian hari senin selesai. apapun hasilnya aku berserah pada-Nya. yang terpenting aku telah sukses mengalahkan diriku untuk berusaha keras.
dan sekarang bersiap untuk hari kedua.
Pungsi vena, Resusitasi Jantung-Paru + Endotrakeal tube, pemasangan ekg, Rumple Leed, Pemeriksaan Rectal Touche, Rontgen Thorax dan Imunisasi.
Bismillah.. Aku pasti bisa
Satrio W.S.
Oh jiwaku
Dimanakah aku kini
Kau bawa aku melintasi tempat yang tinggi
Oh tubuhku ..
Mengapakah engkau kini masih membisu
Tak kunjung bicara padaku

Oh ..
Ceritakanlah padaku apa yang mengeruhkan hati dan jiwaku
Tolonglah ..
Kau tuntunkan aku lagi
Agar ragaku menyatu bersama isi jiwaku

Penuntun jiwaku ..
Luruskanlah hatiku
Seandainya aku tahu aoa yang akan terjadi nanti

Aku masih terus melayang bersandingkan langit hitam
Masih melayang
Terus melayang

Oh ..
Ceritakanlah padaku .. apa yang mengeruhkan hidup dan jiwaku
Tolonglah ..
Kau tuntunkan aku lagi
Agar ragaku menyatu bersama isi jiwaku

Tak perlu kutangisi
Kupasrahkan sekuat hati
Saat jiwa terlepas
Saat jiwa terlepas

#Padi - Hitam
Labels: 0 comments | Links to this post | edit post
Reactions: 

Silahkan Isi


ShoutMix chat widget