Hari-hari penuh tantangan dan tugas-tugas telah selesai semua..
Semoganilai blok ini lenih baik..,ya minimal A- lah..hehe
|
Minggu ini saya berubah menjadi manusia ajaib. Bak sangkuriang yang menyelesaikan perahu, danau, dan bukit dalam satu malam. Tapi ini berbeda. Kalau sangkuriang untuk wanita, saya untuk nilai kuliah.
Tugas mulai dari Praktikum, Log Book, Mind Mapp, Artikel Ilmiah sampai penilaian artikel dengan metode HONCode harus selesai sampai hari ini... Pukul 23.59 WIB Sungguh hal yang sangat berat tapi kalau sudah ingat cita-cita sebelum masuk FK, ah semua itu hanya hal kecil biasa....
Seperti perkataan adikku di seberang laut sana dana teman di FK bahwa saya harus "SEMANGAT"
|
Tulisan berikut adalaha tulisan yang sudah sangat lama ingin kutulis....
Mengenang kembali hari pertama Pesona Ta'aruf Mahasiswa Baru UII 2007 (awal September 2007), menjadi suatu hal yang tragis bagiku atau mungkin bagi bangsa ini. Dari tema acara yang mengangkat isu sikap kritis mahasiswa pada masalah bangsa, hanya sedikit cerminan penanaman sikap nasionalisme . Memang ada tapi bentuknya adalah menyanyikan lagu nasional/lagu kebangsaan yang dikemas dalam bentuk sebuah paksaan sambil berlari atau dibawah betakn. Saya rasa ini bukan langkah yang tepat karena meski mahasiswa baru kami bukanlah hidup di jaman orde baru yang kata orang penuh otoriter.
Pendidikan nasionalisme dalam PESTA 2007 saya rasa perlu di tinjau ulang. Dari fakta di lapangan, pengetahuan Maba-miba yang baru tentang isu kebangsaan sangat rendah (kalau tidak mau dibilang dangakal). Ketika ditanya isi sila ke-3 Pancasila saja mereka tidak tahu.
Memang dari jalannya acara 'mungkin' bisa timbul sikap kritis. Tapi kritis yang seperti apa?? bagi saya sikap kritis itu harus dilandasi rasa nasionalisme. Sudah banyak kritikus-kritikus di negara ini yang hanya bisa berbicara tanpa tanggung jawab dan bukan untuk kepentingan bangsa, melainkan untuk kelompoknya/golongannya. Dan dari mereka hanya menambah keterpurukan bangsa ini.
Entah terpikirkan atau tidak oleh panitia, tapi itulah kenyataan yang saya lihat. Semoga acara PESTA tahun depan dapat lebih baik lagi
|
Hari-hari yang penuh kehampaan telah berakhir. Bekasi, kota yang kuharap mampu memulihkan semangat dan jati diri yang telah tercarut marut oleh kerasnya rantau ternyata tak ubahnya kota yang lebih membunuh jiwaku
Seperti sebuah pertanyaan yang aku layangkan di kaki Gunung Slamet, "Untuk siapa aku kembali?". Begitulah perasaan yang ada padaku setibanya di Bekasi sehingga Bekasi yang kuanggap pembunuh jiwaku. Walau akhirnya kutahu aku bukan kembali untuk 'dia' ( karena dia kurasa terlalu jauh untuk kugapai), bukan untuk 'rumah' (yang kurasa bak neraka baru bagi hidupku).
Kini ku kembali di Jogja dengan sebuah semangat baru untuk membahagiakan Ayah yang telah berjuang dengan keras untuk memberangkatkan ku menuju Jogja. Tak ada yang memberatkan langkah ini karena tak satu pun mangganjal baik 'dia', 'rumah' maupun teman-teman GP yang selalu men-
support ku.Aku datang Jogja, kembali dalam selimut kedinginanmu
Menikmati indahnya malam, kembali duduk di angkringan mu
Bercengkrama tentang pedihnya hidup..........
|